Minggu, 17 Juli 2011

AGAR JURNALISME BERMUTU

[Photo: http://www.dailymail.co.uk/news/article-2012886/News-World-CofE-threatens-withdraw-4m-investment-Murdoch.html]

PERCAYAKAH Anda jika wartawan tak bisa menulis? Orang nomor satu Kompas-Gramedia, Jakob Oetama, bilang: Wartawan Kompas banyak yang belum bisa menulis. Dan Goenawan Mohamad, pendiri majalah Tempo, merasa tak pernah punya “lebih dari 10 orang penulis” meski 30 tahun jadi redaktur.

Kisah tadi dituliskan oleh Andreas Harsono dalam karangan ”Bagaimana Cara Rekrut Wartawan” (Agama Saya adalah Jurnalisme, Penerbit Kanisius, 2010). Andreas adalah wartawan kawakan. Ia pernah bekerja di The Jakarta Post (Jakarta), The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan Pantau (Jakarta). Pada 2000 ia menerima Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard.

Mungkin keadaan sekarang berubah. Andreas menulis hal itu pada 2005 dari London. Inti tulisan itu tentang pertemuannya dengan Wendel ”Sonny” Rawls Jr, mantan wartawan dan redaktur The Philadephia Inquirer, The New York Times dan The Atlanta Journal-Constitution.

Sonny, penerima Pulitzer Prize pada 1977, mengungkap kiatnya mencari reporter. Ia akan minta calon wartawan mengirimkan 10 news stories, bukan features, dengan model piramida terbalik atau piramida.

”Saya baca lead dulu dan tiga alinea pertama. Apakah beres atau tidak? Kalau beres, mudah dicerna, jelas, jernih, saya akan baca the end of the stories.”

Dari lead dan ending bisa disimpulkan kemampuan logika si pelamar: Apakah dia bisa menghubungkan keduanya dengan baik. Singkatnya, apakah relasi awal-akhir itu punya ”strong understanding”.

Sonny, seperti dituturkan Andreas, akan mewawancarai si pelamar bila laporannya baik atau menjanjikan. Pertanyaannya mulai dari karier sampai kehidupan si pelamar.

What kind of books they read?
What they do when they’re not working?

Buku yang dibaca bisa sebagai indikasi, jenis selera sampai kekuatan nalar si wartawan. Aktivitas senggangnya menandakan apa? Menurut Sonny, seorang pemancing, misalnya, berarti orang yang ”kontemplatif”, suka berpikir dengan dalam. Tapi Sonny tak suka wartawan yang merokok pakai pipa. ”Too slow thinking,” kata dia.

Faktanya, banyak wartawan Indonesia merokok tanpa pipa. Tapi hal itu bukan garansi wartawan Indonesia biasa berpikir gesit atau lincah menulis.

Menulis secara Bermutu
Tak ada resep khusus menulis bagaimana agar tulisan bermutu. Ide bukan wangsit yang mbrosot dari langit. Teknik menulis wajib dilatih. Kaidah bahasa mesti ditaati. Untuk karya sastra sekalipun, Gabriel Garcia Márques pernah bilang: Ultimately, literature is nothing but carpentry. Sastra cuma ihwal pertukangan.

Masalahnya, dalam kondisi apa kita bisa menulis dengan baik? ”Kesejahteraan ekonomi dan kesehatan yang terjaga baik merupakan situasi kondusif untuk menulis,” sahut Ernest Hemingway.

Asersi Hemingway terkesan blak-blakan. Perut lapar atau tubuh sakit mustahil diajak kompromi untuk menggurat pena. Wartawan yang digaji murah niscaya buyar konsentrasinya. Jika begitu, bisakah ia menulis dengan lancar?

Sebaliknya kita saksikan: Camus dan Nietzsche mengolah rasa sakit dan mendedahkan kontemplasinya. Keduanya penulis raksasa.

Sejak kecil Camus terlilit tuberculosis kronis. Harapan akan hidup berhadapan vis-a-vis dengan ancaman permanen kematian. Tegangan itu melahirkan gagasan ”absurditas”. Sedang Nietzsche didera penyakit tifus dan dihantui kebutaan total. Akhirnya dia malah menjadi ”pembunuh” Tuhan.

Tentu saja wartawan bukan sastrawan atau filosof. Wartawan memaparkan realitas faktual, sedang sastrawan menyodorkan gagasan imajiner. Persoalannya, pinjam pemikiran Ignas Kleden (1996), apakah dari wartawan bisa diharapkan tidak saja factual knowledge, tapi juga conceptual knowledge?

Tapi, ada kesamaan antara wartawan-sastrawan. Mereka sama-sama menekuni aksara: Memakai kata-kalimat untuk menulis berita atau karangan sastra. Karena itu mereka mesti ”beres” dalam hal berbahasa. Beres berbahasa berarti taat pada kaidah gramatika, sistematis, selaras diksinya, dan sekaligus logis-rasional penuturannya. Dalam hal ini memang orang mudah tergelincir.

Tak cuma pengarang, banyak wartawan menulis secara kemayu. Struktur narasinya molor, penalarannya kedodoran. Istilah-istilah ambigu royal bertebaran. Inti berita atau cerita terkubur di balik kalimat-kalimat panjang. Tak jarang kesalahan bahasa bersifat elementer. Wartawan alpa kepada siapa ia menulis. Pembaca bingung.

Maka, kembalilah pada bahasa jurnalisme yang cekak, bernas, dan bersih. Metode dan strategi berkisah pun mesti diasah terus. Tuturan sederhana lebih elegan ketimbang teks yang ruwet. Idealnya, wartawan punya conceptual knowledge yang memadai agar racikan beritanya memuaskan pembaca.

Tegasnya, wartawan mesti piawai menulis. Wartawan harus beres berbahasa. Untuk apa? Agar wartawan lebih bermutu, biar jurnalisme kian bermutu. Alasannya, pembaca sekarang makin bermutu.

Tubagus P Svarajati
Esais, bermukim di Semarang

[CATATAN: Esai dikirimkan ke Suara Merdeka, Sabtu: 25/06/2011]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar